Jumat, 19 Agustus 2016

STBM di Kecamatan Purwosari




SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT ( STBM )
DI KECAMATAN PURWOSARI
Pendahuluan
§  STBM adalah pendekatan untuk merubah perilaku hygienen dan sanitasi memelaui pemberdyaan masyarakat dengan methode pemicuan
§  Sanitasi merupakan kebutuhan dasar, sebagai konsekuensinya, pemerintah harus mendorong terpenuhinya kebutuhan tersebut.
§  Hingga saat ini akses sanitasi masih belum memadai. Sementara prasarana dan sarana yang terbangun banyak yang tidak berfungsi atau tidak memenuhi persyaratan.
Dampak Perbaikan Sanitasi (Pengalaman Global)
ü Berinvestasi pada sanitasi sebesar USS 5/kapita/tahun dapat meningkatakan produktivitas sebesar 34-79 % dan mengurangi biaya pengobatan sebesar 6-19% (ISSDP,2006)
ü Negara dengan sanitasi yang mencukupi mendapat keuntungan sebesar USS 8 – 12 untuk setiap USS 1 yang diinvestasikan (Studi WHO,2005)
Kenyataan di lapangan
·      Buruknya kondisi sanitasi mengakibatkan kematian bayi, angka kesakitan dan mal-nutrisi bagi anak.
·      Saat ini diperkirakan 100.000 anak meninggal setiap tahunnya karena diare.
·      94% kasus diare disumbang oleh faktor lingkungan yg tekait dengan konsumsi air yang tidak sehat, buruknya sanitasi dan hygiene (Word Publication 2006)
Mengapa STBM ?
Karena ternyata :
§  Perbaikan kondisi sanitasi hanya bisa dilakukan bersama secara total, tidak parsial
§  Masalah sanitasi merupakan masalah masyarakat, bukan masalah pihak luar, sehingga pembangunan sanitasi yang paling tepat dilakukan sendiri oleh masyarakat dan tanpa subsidi dari pihak luar, sehingga masyarakat merasa memiliki.
§   
Pilar STBM
1.      Stop Buang Air Besar Sembarangan ( Stop BABS )
2.      Cuci tangan pakai sabun ( CTPS)
3.      Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga (PAM-RT)
4.      Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
5.      Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga

KEGIATAN STBM DI KECAMATAN PURWOSARI
1.      Pertengah tahun 2007, ada LSM yang masuk ke Purwosari bekerja sama dengan Dinkes Kab.Gunungkidul melalui JHU, ‘Aisyiyah dan Pempro DIY dengan program cuci tangan pakai sabun dengan sasaran anak sekolah dan Posyandu.
2.      Pembentukan fasilitator dusun yang bertugas menganalisis masalah kesehtan di masing-masing wilayah, yang kemudian menjadi program yang akan mendapat stimulan.
3.      Muncul program stimulan jamban keluarga bagi warga yang belum memiliki jamban sehat, sehingga dusun Petoyan, Giritirto dan  Karangnongko, Giripurwo (yang terpilih sbg sample) seluruh RT memiliki jamban keluarga yang sehat.
4.      Tahun 2010 ada pembangunan drainase sepanjang Nglegok, Susukan sampai Petoyan, sehingga lingkungan sungai lebih tertata.
5.      Orientasi STBM tingkat kecamatan di UPT Puskesmas Purwosari tgl 22 Juni 2011 yang menyepakati daerah Petoyan, desa Giritirto  sebagai daerah percontohan.
6.      Sosialisasi STBM tingkat desa di Desa Giritirto tgl. 14 Juli 2011.
7.      Sosialisasi STBM tingkat dusun di Petoyan Desa Giritirto tgl. 18 Juli 2011.
8.      Deklarasi Padukuhan Petoyan terbebas dari BABS tgl 19 Oktober 2011, Bpk.Camat Purwosari dan Kepala Desa Giritirto di Balai Desa Giritirto.
9.      Pelatihan fasilitator STBM Kec. Purwosari oleh Dinkes Prop DIY pada bulan September 2011.
10.  Pemicuan Stop BABS di padukuhan Gading desan Giritirto pada bulan September 2011 sebanyak 5 x
11.  Evaluasi hasil pemicuan.
12.  Orientasi dan Advokasi STBM di 4 Desa yang lain dengan dana BOK 2012
13.  Orientasi dan Advokasi STBM di tingkat Padukuhan yang akan dipicu  dengan dana BOK 2012
14.  Pemicuan STBM (Pilar 1) di tingkat padukuhan dengan dana BOK 2013
15.  Evaluasi pemicuan STBM (Pilar 1) di tingkat padukuhan dengan dana BOK 2013
16.  Orientasi dan Advokasi STBM Pilar STBM selain Pilar 1 di 5 Desa dengan dana BOK 2014
17.  Pengembagan Pilar STBM yang lain di 5 Desa.
DEKLARASI STBM PILAR 1 ( STOP BABS ) TINGKAT DESA
1.      Desa Giritirto, tgl.  1 Mei 2012
2.      Desa Giriasih, tgl. 9 Juli 2012
3.      Desa Girijati, tgl. 21 September 2012
4.      Desa Giripurwo, tgl. 14 Agustus 2013
5.      Desa Giricahyo, tgl. 7 Agustus 2014

Kecamatan Purwosari diharapkan Deklarasi Stop BABS tingkat Kecamatan pada bulan September  2014.

Pengembangan Pilar STBM yang lain.
1.    Cuci Tangan Pakai Sabun
a.    Pencanangan Gerakan Cuci tangan pakai sabun oleh Bpk.Camat Purwosari bertepatan dengan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia pada tanggal 15 Oktober 2009 yang diikuti oleh seluruh siswa SD dan Balita Posyandu.
b.   Sosialisasi dan pengadaan “Padasan” (gentong untuk wudhu) sebagai sarana CTPS.
c.    Seluruh SD yang ada di Kec.Purwosari sudah memiliki sarana CTPS.
d.   Seluruh Rumah di RT 02 dusun Tompak telah memiliki fasilitas Cuci Tangan, kerjasama dengan Pokmair Jazirah.
2.    Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga dengan Peningkatan kualitas akses air bersih di :
a.    Desa Giripurwo
                    i.     Padukuhan Tlogowarak, Jlumbang, Kacarangan dengan pengangkatan dan pendistribusian air dari goa Pego, bekerja sama dengan Bpk.Yunus Husein, Mantan Ketua PPATK, BWA
                 ii.     Rehab Sumur Gali ( 28 ) dengan dana dari TP STBM th. 2013
b.   Desa Giricahyo
                    i.     Pengangkatan air goa Plawan di Giricahyo, saat initerkendala kerusakan sistem pengangkatan air dari mesin genset, dan hanya mengandalkan solar sel, cakupan sangat tebatas.
                 ii.     Perluasan distribusi dari goa Pego Giripurwo telah sampai di dusun Nglumbung dengan adanya reservoir dan SR di beberapa rumah.
c.    Desa Girijati.
                    i.     Rehab Sumur Gali ( 19 ) dengan dana dari TP STBM th. 2013
                 ii.     Pengeboran air tanah dalam dari Kemen ESDM, tapi hanya cukup lingkungan Kantor Balai Desa Girijati dan sekitarnya.
d.   Desa Giriasih
                    i.     Pengangkatan dan pendistribusian air dari goa Pego Ngoro-oro, yang menjangkau dusun Trasih, Wonolagi dan Ngoro-Oro
                 ii.     Pengangkatan dan pendistribusian air dari goa Manggung di dusun Klepu
               iii.     Rencana pengangakatan dan distribusi air dari Plumpang untuk dusun Klepu dan sebagian dusun Dringo Girijati.
e.    Desa Giritirto
                    i.     Pengangkatan dan pendistribusian air dari Sumur Bor untuk padukuhan Gading kerjasama dengan PT.Kalbe Farma dan Pemkab Gunungkidul untuk pengembangan.
                 ii.     Pengangkatan dan pendistribusian air dari goa Cerme yang menjangkau dusun Ploso
               iii.     Pengangkatan dan pendistribusian air dari mata air Ngeleng yang menjangkau dusun Petoyan, Nglegok, Susukan dan Tompak dengan dana dari Swadaya, fihak ke-3, JRF Rekompak dan PNPM Mandiri Perdesaan.
               iv.     Rehab Sumur Gali ( 5  ) dengan dana dari TP STBM th. 2013
3.    Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
a.    Desa Giripurwo
                   i.          Pembuatan Gubug Sampah di dusun Karangnongko
b.        Desa Giritirto
                   i.          Pembuatan Bank Sampah di dusun Tompak, dan sudah mendapat pelatihan dari Kapedal Kab.Gunungkidul th. 2014
4.    Pengelolaan Air Limbah Rumah Tangga
a.    Percontohan SPAL rumah tangga di beberapa padukuhan (Petoyan, Tompak, Karangtengah, Klepu )
b.   Seluruh Rumah di RT 02 dusun Tompak, RT 02 dan 03 Dusun Karangnongko  telah memiliki fasilitas SPAL.

Rencana Kegiatan.
1.      Perluasan pilot project pilar stbm tentang Pengelolaan Sampah rumah tangga di dusun Dringo, Girijati.
2.      Perluasan pilot project pilar STBM tentang Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga di dusun Tompak, dengan tidak menutup kemungkinan di desa yang lain.
3.      Peningkatan kualitas jamban keluarga di beberapa daerah / desa dengan menggunakan ADD.
4.      Pendampingan Pokmair dalam pengelolaan air bersih dengan meningkatkan pengetahuan pengelola tentang air dan kesehatan
Perkembangan STBM
1.      Awal pemicuan :
a.      198 Rumah Tangga belum memiliki WC (BABS ), belum ada kesepakatan warga untuk menumpang
b.      Belum ada kesepakatan warga/masyarakat melalui rembug RT tentang himbauan STOP BABS
c.       Belum ada kesepakatan warga / masyarakat tentang sangsi bila BABS.
2.      Saat ini
a.      Peningkatan cakupan  WC leher angsa dari 3.558 sarana menjadi 3.869 atau naik 311 sarana (8 %) baik dari pembangunan baru atau peningkatan kualitas dari WC cemplung.
b.      Ada kesepakatan warga tentang pembangunan WC bagi yang baru membangun rumah, menumpang bila belum mampu.
c.       Mulai terkondisikan di masyarakat perasaan malu untuk BAB sembarangan atau bila tidak memiliki WC.

 FOTO KEGIATAN
Suasana Pemicuan Stop BABS

 
  

Deklarasi STBM Stop BABS